Tips agar bekerja lebih efesien

Bekerja selain sebuah kewajiban yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup juga sudah menjadi kebutuhan dasar. Dari sebuah penelitian General Accident Insurance Research mengungkapkan bahwa dari sehari waktu kerja, pekerja mengakui mereka menghabiskan 38 menit untuk mengurusi diri mereka sendiri (ini hanya sebanyak 36% saja dari yang disurvei).

Sementara itu 73% dari pekerja merasa bahwa pekerjaan mereka tidak didukung peralatan yang ada. Ini jelas menjadi permasalahan sendiri dalam dunia kerja yang membutuhkan efisiensi waktu dan tenaga.
 
Dalam dunia yang sudah terhubung internet, fleksibilitas harusnya menjadi sesuatu yang lumrah. Maka pegawai disarankan agar bisa fleksibel dalam bekerja sekaligus mampu membagi waktu dengan tepat bagi setiap pekerjaan yang ada.

Ahli produktivitas Grace Marshall mengungkapkan bahwa semakin kita fokus pada pekerjaan kita maka akan lebih bagus. Apalagi jika tidak ada gangguan kecil dalam pekerjaan. Hal ini bisa membuat pekerjaan kita menjadi lebih efisien. Berikut ini tips untuk bekerja dengan efisien:
  • Alokasi waktu dengan bijak. Pilih waktu yang tepat untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Jika ada masalah pribadi, alokasikan waktu khusus terpisah dari pekerjaan kita sendiri agar tidak mengganggu.
  • Jauhi sosial media. Jika sosial media mengganggu, sebaiknya tidak perlu mencek twitter atau facebook dengan sering. Tentunya Anda tidak perlu terlalu sering mencek akun sosial media Anda kan?
  • Multitasking adalah mitos. Melakukan banyak pekerjaan pada satu waktu yang sama sebenarnya tidak bagus dan bisa membuat Anda melakukan kesalahan. Kerjakan pekerjaan satu persatu secara kronologis.
  • Jangan menunda. Pekerjaan yang harus dilakukan, sebaiknya jangan ditunda sebab akan menumpuk dikemudian hari.
  • Cari ruangan sepi. Bekerja dengan suasana hingar bingar bisa membuat Anda tidak konsentrasi. Usahakan ruangan kerja Anda sunyi senyap.

    Nah, mulailah dari sekarang untuk bekerja lebih efesien.

Mengajarkan antri bagi anak

"Antri dooong" kata yang tidak asing ditelinga bila ingin mendapatkan sesuatu yang peminatnya banyak. Tapi tahukah anda bila budaya antri ini belum sepenuhnya menjadi kesadaran bagi mayoritas masyarakat di Indonesia. Masih banyak kita lihar diberita TV dan koran bila masyarakat kita berdesak-desakan hanya untuk mengambil jatah beras raskin atau berebutan pembagian sembako dari ormas atau parpol yang ingin mengambil simpati masyarakat.

Budaya antri sudah selayaknya kita tanamkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa agar lebih bermartabat dan berbudaya. Untuk melatih anak agar menguasai ilmu matematika bisa saja dilakukan dalam tempo 3 bulan saja namun kita akan memerlukan waktu sampai dengan 12 tahun bahkan lebih untuk melatih anak bisa mengantri dengan baik dan benar. 

Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika, kecuali tambah, kali, kurang, dan bagi. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari siswa yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan matematika. Sementara itu, semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan etika moral dan pelajaran berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

Ada banyak pelajaran berharga yang didapatkan dari mengantri, yakni.
  1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, ia harus datang lebih awal dan itu butuh persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar. Menunggu giliran tiba, terutama jika ia berada di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu dan tidak merasa dirinya paling penting.
  4. Anak belajar disiplin. Aturan mengantri adalah tidak menyerobot dan itu berarti tidak mengambil hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif. Untuk mengatasi kebosanan saat mengantri, mereka dapat melakukan kegiatan yang memicu kreativitas.
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi. Menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah. Menjalani proses dalam mencapai tujuannya, sehingga tidak melegalkan cara-cara kotor dalam mencapai tujuan.
Dalam kehidupan beragamapun budaya antri sebenarnya sudah diajarkan. Agama Islam mengajarkan bagi yang datang lebih dahulu ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat berjamaah maka ia berhak untuk duduk pada saf terdepan, sedangkan bagi yang datang lebih lambat walaupun ia seorang presiden sekalipun maka ia harus duduk dibarisan belakang. Nah, sudahkah anda disiplin mengantri ?

Penyebab terjadinya perselingkuhan

Ada lima alasan yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan dan ini dikelompokkan menurut apa yang berhasil ditemukan dari berjuta-juta alasan yang dikemukakan oleh para klien melalui proses-proses konseling yang panjang jadi bukan hanya semata alasan yang keluar dari mulut si klien, namun masuk lebih dalam! 

Berikut ini penuturan psikolog Ratih Ibrahim :

Pertama
Kesempatan dan kondisi lingkungan. Maksudnya, karena kesempatannya memang ada, terbuka sangat lebar sekali. Selain itu semua orang (sepertinya) melakukan hal itu. "Mau tidak mau saya jadi termotivasi, terkondisi untuk berselingkuh. Supaya saya jadi 'normal' di antara teman-teman, lingkungan saya. Karena dengan tidak punya selingkuhan, membuat saya seolah-olah jadi makhluk ajaib. Dan saya tidak mau diberi label sok alim, takut pasangan, bukan lelaki tulen, banci, dan lain-lain. Jadi, menyelewenglah saya, berlingkuhlah saya, karena arusnya membuat saya seakan-akan memang harus demikian."

Kedua  
Tidak sengaja jatuh cinta. Maksudnya begini, "Sumpah. Saya tidak kepingin jatuh cinta lagi. Selama ini saya beranggapan sampai dengan yakin bahwa pasangan adalah cinta sejati saya, dan akan demikian untuk selama-lamanya, lalu tiba-tiba saya bertemu dengan si dia. Entah dalam waktu yang seketika atau juga lantaran saling sering bertemu, lama-lama perasaan jatuh cinta semakin terasakan, semakin lama semakin dalam, semakin intens, semakin tidak terhindarkan, dan semakin menggila. Sampai kemudian saya tidak mampu lagi mengendalikan segala dorongan untuk mewujudkan kejatuhcintaan saya kepada si dia dalam perilaku, yang merujuk kepada segala bentuk perselingkuhan."

Ketiga  
Pola asuh. Maksudnya? Pola asuh dalam keluarga yang memang sifatnya sangat permisif terhadap perselingkuhan. Bahwa memiliki relasi asmara di luar perkawinan adalah hal yang sangat lazim. Bahwa kesetiaan bukan sesuatu yang big deal dalam keluarga. Yang value, nilai komitmen dalam keluarga sifatnya minimal, atau bahkan artificial di situ. Sehingga, semua hal itu dibawa serta ke usia dewasa, termasuk ketika masuk ke dalam kehidupan perkawinan.

Keempat  
Balas dendam. A pay back. Balas dendam terhadap apa? Balas dendam terhadap segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya. Traumanya. Trauma yang bagaimana? Setiap orang mengalami pengalamannya sendiri-sendiri. Karena itu sifatnya sangat subjektif dan kasuistik. Jawaban atas alasannya tidak seragam. Bukan dikarenakan oleh sebuah penyebab yang sama. Misalnya pada satu orang bisa saja karena di suatu saat di masa lalunya ia dikhianati kekasihnya, dikhianati pasangannya - istrinya sehingga kemudian ia melakukan hal yang sama. Atau bahkan bisa jadi bukan ia sendiri yang mengalaminya melainkan orang lain, misalnya orangtuanya, saudaranya, atau sahabatnya. Lalu ia mengambil pengalaman luka itu sebagai alasan untuk mendendam. Atau bisa juga sebagai bentuk pembalasan atas pelecehan-pelecehan yang pernah dialaminya. Baik memang secara sungguh-sungguh ia alami maupun yang sebetulnya hanya ada dalam pikirannya sendiri saja. Misalnya bahwa ia jelek, miskin, pendek, aneh, dan berbagai alasan lain sehingga ia tidak cukup berharga bagi pasangannya. Bahkan bisa saja ia melakukan perselingkuhan sebagai bentuk pembalasan dendam terhadap ketakutan-ketakutannya sendiri, pemikiran-pemikirannya sendiri terhadap sebuah relasi yang sakit.

Kelima
Berselingkuh sebagai bagian dari adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan dalam  dirinya. Sifatnya memang eksistensial. Pada dasarnya setiap orang butuh untuk bisa eksis sehingga kehadirannya di dalam hidup ini dihayatinya sebagai bermakna. Meski demikian, pada dasarnya ada ruang-ruang kosong yang menanti untuk diisi dalam diri setiap orang. Some voids. Keterisian kekosongan itu menjadi dambaan pada kita, baik kita sadari maupun tidak. Secara sadar maupun tidak kita berupaya untuk mengisi ruang kosong tersebut. Kita lalu melakukan pencarian-pencarian. Dan ketika kita bertemu dengan seseorang kita merasa adanya kecocokan yang timbul akibat chemistry yang terjadi ketika ada sebuah relasi. Chemistry yang terjadi menimbulkan sensasi rasa yang indah, seperti rasa senang, pas, suka, bahagia, cinta, dan lain sebagainya. Dan kita merasa dia adalah our soul mate, pasangan hidup kita.

Masalahnya sekarang adalah, apakah satu orang saja cukup untuk memenuhi seluruh ruang kosong yang kita miliki dalam diri kita itu? Jawabnya, tentu saja tidak. Karenanya, setelah beberapa waktu kemudian, ketika masa bulan madu relasi usai, kita kembali merasakan adanya ruang-ruang kosong yang masih tetap kosong, dan belum terpenuhi. Kemudian proses pencariannya dimulai kembali. Sampai pada suatu ketika kita bertemu orang lain yang rasanya cocok. Betulkan demikian? Sebetulnya ya tidak juga. Apakah ketika kita melepaskan pasangan kita demi si dia, otomatis segala kerinduan pemenuhan diri kita akan terpenuhi? Jelas tidak. Mengapa? Si dia mampu melengkapi kekosongan itu lantaran ruang kosong yang lain sudah dipenuhi oleh pasangan sejati kita sendiri. Sayangnya hal ini lebih sering tidak disadari oleh si pelaku perselingkuhan.

Semoga bermanfaat.

Cerita dibalik perselingkuhan di kantor

Berhati-hatilah membeberkan persoalan rumah rangga pada teman sekantor yang berlainan jenis. Alih-alih masalah terselesaikan, perselingkuhaan bisa terjadi. Kalau sudah begini, satu pihak akan meneguk madu, pihak yang lain akan menelan racun.
 
Masih ingat skandal yang melibatkan Bill Clinton dan Monica Lewinsky? Ya, itulah skandal perselingkuhan yang mengguncang dunia karena melibatkan orang nomor satu di negara adidaya, Amerika Serikat. Perselingkuhan tersebut tidak hanya melukai hati rakyat Amerika, tetapi terutama mencoreng aib pada figur keluarga harmonis Amerika - yang ingin ditunjukkan oleh pasangan Bill dan Hillary Rodham Clinton dalam kampanyenya.

Terbongkarnya skandal antara penguasa AS dengan pegawai magang di Gedung Putih itu membuat Clinton harus menghadapi impeachment parlemen. Jabatan presiden pun nyaris ditanggalkannya. Bahkan, yang paling menyesakkan dada, hubungannya dengan istri tercintanya, Hillary, menjadi hambar, meskipun hal ini berusaha mereka tutupi.

Skandal Bill Clinton - Monica Lewisnky hanyalah satu contoh perselingkuhan yang terjadi di muka bumi ini. Masih ada puluhan, ribuan, bahkan jutaan skandal lain yang melibatkan cucu Adam dan Hawa.

Ancaman kehilangan jabatan dan keretakan rumah tangga, seperti yang dihadapi Clinton, menjadi dua dari sekian banyak pil pahit perselingkuhan yang mesti ditelan. Namun, tak sedikit pula yang mengaku perselingkuhan justru menjadi pendongkrak kasih sayang terhadap keluarga. Benarkah?

Hati-hati curhat!

Di era serba terbuka seperti sekarang, perselingkuhan, termasuk dengan rekan sekantor, seperti menjadi hal biasa. Di Singapura, yang masyarakatnya cenderung workaholic misalnya, selingkuh dengan teman sekerja menjadi cara untuk menyalurkan kebutuhan sosialisasi dengan lawan jenis.

"Panjangnya jam kerja, ditambah jauhnya jarak rumah - kantor, membuat kesempatan untuk berselingkuh dengan rekan kerja semakin terbuka," jelas Dra. Pamugari Widyawati, ketua Jurusan pada Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta.

Selingkuh, menurut Pamugari, adalah menjalin hubungan intim dari segi fisik dan emosional dengan pihak lain. Semua itu dilakukan di luar perjanjian hukum dan komitmen bersama, serta tanpa diketahui oleh pasangaan sahnya.

Perselingkuhan bisa berawal dari usaha mencurahkan isi hati (curhat) pada teman dekat dalam menghadapi persoalan yang dihadapi. Apa yang dialami Dini (bukan nama sebenarnya), karyawati perusahaan media ternama di Jakarta yang berselingkuh sekaligus dengan dua teman sekantornya, mungkin bisa jadi contoh. 

Ketika sedang kalut karena akan bercerai dengan suaminya yang berselingkuh, Dini mulai curhat dengan rekan sekantornya. "Curhat itu ternyata berkembang menjadi 'curhat' lainnya, 'mencuri hati'," katanya sambil tertawa. Meskipun perceraian dengan suami urung terjadi, perselingkuhan tak terhindarkan lagi. "la menjadi bagian dari kehidupan saya setiap hari, apalagi kami sekantor," lanjutnya.

Curhat memang akan menimbulkan keterlibatan emosional, yang diawali dari perhatian. Kedua insan saling menyamakan visi, dan menganggap mereka bisa saling melengkapi dan dimengerti.

Ini jelas jadi lampu merah bagi hubungan yang sehat dengan pasangan sah. Apalagi jika pasangan itu sedang mengalami hambatan komunikasi karena kesenjangan wawasan. Kalau ditelaah lebih jauh, pada dasarnya pria menyukai variasi, persaingan, dan petualangan. Tidak heran bila ia rentan untuk berselingkuh.

"Sejak kecil seorang pria didorong untuk menang bersaing, sedangkan wanita dibesarkan untuk bisa menjadi orang yang mertgemong dan mengasuh lingkungan," jelas Pamugari, yang mantan dosen Jurusan Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, ini. Lain dengan yang terjadi pada wanita. Perkembangan informasi dari media massa tentang emansipasi wanita dan feminisme, ditanggapi wanita secara berlebihan. Akibatnya, ia pun menghalalkan segala cara untuk memuaskan ambisi dan mencapai tujuan. Salah satu "alaf'nya, perselingkuhan.

"Itu dapat disebut si wanita terimbas gender maskulin," kata Pamugari. Wanita yang seharusnya menjadi pihak yang memelihara hubungan kerja sama, ternyata terimbas ikut bersaing dengan cara tidak sehat agar tujuannya tercapai. Maka, perselingkuhan pun semakin mudah terjadi.

Selain untuk memuaskan ambisi atau mencapai tujuan yang dikehendaki, perselingkuhan juga dijadikan jembatan untuk mendapatkan variasi hubungan seksual. "Saya berselingkuh dengan teman-teman di kantor sebagai variasi hubungan seksual," aku Danton (nama samaran), wartawan yang mengaku berselingkuh dengan beberapa teman wanita sekantornya.

Ada pula yang berselingkuh semata-mata dengan tujuan mendapatkan kepuasan materi. Jalinan perselingkuhan antara Johnie (lagi-lagi nama rekaan) dengan ibu muda pengusaha adalah salah satu contohnya. Ketertarikan pengusaha itu kepada figur Johnie, yang mirip ayahnya, bisa dimanfaatkan untuk membiayai gaya hidup Johnie yang mentereng, lengkap dengan kencan tingkat tinggi di hotel berbintang.

Just for fun adalah tujuan lain perselingkuhan. Setidaknya itulah yang diucapkan Dini, yang sudah hampir empat tahun berselingkuh. "Senang saja sih, setidaknya saya memiliki lebih dari satu orang yang mencintai dan menginginkan saya," ungkapnya.

Jadi, dengan perselingkuhan sebenarnya banyak hal yang bisa dicapai. Eh, tunggu dulu. "Apa pun yang mereka dapatkan dari perselingkuhan hanya bersifat semu, dan alasan yang dibuat-buat," ungkap Pamugari.

Memang, pelaku merasakan sesuatu yang berbeda saat berselingkuh. Sebagian besar pasangan yang berselingkuh dengan rekan kerja, menikmati rasa "seru" akibat adegan "kuncing-kucingan". Rasanya seperti sedang pacaran lagi," kata Pamela (bukan nama sebenarnya), wanita jelita yang berselingkuh dengan senior manager perusahaan multinasional di Jakarta, la menikmati rasa kangen ketika berpisah. Atau, rasa deg-degan ketika mendengar deringan telepon saat bersama suami.

"Ada rasa takut ketahuan. Tapi, itulah tantangannya," tambah Dini.

Firasat pasangan

Bagi pelakunya, berselingkuh bisa jadi menyenangkan, membangkitkan semangat, dan menantang. Namun, semua itu bukan tanpa risiko. Kalau perselingkuhan itu ketahuan, bukan tak mungkin keutuhan rumah tangga akan terkoyak. Atau jabatan di tempat kerjanya bakal dicopot, seperti yang nyaris dialami Bill Clinton.

Untuk mengetahui pasangan berselingkuh memang tidak harus lewat melihat dengan mata kepala sendiri. Seseorang sering kali bisa mengetahui pasangannya berselingkuh, meski tak selalu diungkapkan, hanya berdasarkan firasat. Pasalnya, di antara suami-istri biasanya telah terbangun kedekatan emosi. 

Perasaan "curiga" bisa timbul, misalnya, ketika pihak yang berselingkuh tanpa sadar memberi perhatian berlebihan, yang tidak biasa, pada pasangannya. Ini untuk menutupi rasa bersalahnya pada pasangan. "Rasa bersalah kadang muncul ketika sedang berkumpul bersama keluarga. Entah karena rasa bersalah itu, saya jadi lebih memperhatikan suami dan dua anak saya," ungkap Dini.

Itu setali tiga uang dengan pria peselingkuh. Selain lebih perhatian pada pasangan, ia juga lebih memperhatikan penampilannya. Lebih merawat diri dan menghabiskan waktu lebih lama untuk berdandan. Persislah dengan orang sedang jatuh cinta!

Dalam banyak hal, cinta pada pasangan dan keterikatan pada keluarga membuat pria umumnya tak terlalu berminat membina hubungan serius dengan pasangan selingkuhnya. Sebaliknya, wanita yang punya "hubungan" di luar rumah tangga, banyak yang sulit melepaskan diri dari pasangan selingkuhnya. Pasalnya, kebanyakan wanita melibatkan emosinya di sana.

Lalu bagaimana caranya menghindari jerat perselingkuhan? "Ketika sudah menikah, dua orang yang saling mencintai sebaiknya berusaha untuk mengimbangi wawasan dan cara berkomunikasi. Termasuk dengan lingkungannya yang terus berubah," kata Pamugari.

Pasangan yang tinggal di rumah terkadang lupa ikut mengembangkan diri, sebagaimana pasangannya yang bekerja. Akibatnya, terjadilah kesenjangan antara keduanya. "Setiap pasangan harus terus mengembangkan diri untuk menunjukkan penghargaan pada diri sendiri," pesan Pamugari.

Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan merupakan keharusan setelah seseorang menjalin komitmen seumur hidup dengan orang lain. "Jadi, ketika pasangan sedang down, sebaiknya kita yang menjadi pemompa semangat. Kita pula yang ikut dibanggakan, ketika pasangan kita meraih prestasi."

Ketika menghadapi masalah, sebaiknya dipecahkan bersama. Selalu ingat pada komitmen berdua dan keluarga akan mengikat setiap pasangan untuk menyelesaikan masalah bersama di rumah. Atau, dengan bantuan profesional. Bukan dengan orang yang bukan ahlinya di luar rumah, termasuk teman kerja. Secara matematis, keuntungan melibatkan orang luar dalam menyelesaikan persoalan internal rumah tangga bisa jadi hanya sedikit, tetapi kerugiannya bisa lebih banyak.

Kalaupun perselingkuhaan tetap terjadi, penyelesaian dengan kepala dingin sebaiknya tetap dikedepankan. Perbuatan ini memang menimbulkan sakit hati pada pihak yang dikhianati. Namun, ia tetap harus bisa mempertahankan harga diri dan mampu mengendalikan diri. Amarah berlebihan justru bisa membuatnya kehilangan "nilai" terhadap saingannya.

"Memang sulit untuk menerima kembali pasangan yang telah berselingkuh," kata Pamugari. Meski tampaknya kaum pria lebih mudah menerima kembali istrinya dibandingkan dengan wanita untuk menerima suaminya - yang berselingkuh.

"Begitu mengetahui pasangannya berselingkuh, dalam pikiran seorang wanita akan selalu muncul bayang-bayang suaminya tengah bermesraan dengan wanita lain. Akibatnya, ia jadi sulit mesra, dingin pada suaminya," ungkap Pamugari.

Mengungkit-ungkit masalah, apalagi jika pasangan sudah menyesali perbuatannya, juga akan menambah runyam persoalan. Bahkan, tindakan itu bisa membuat pasangan kembali terjerumus untuk memenuhi dakwaan pasangannya (self fulfilling prophecy).

"Jadi, selain memaafkan, pasangan hidup sebaiknya kembali membangun komunikasi, rasa menghargai, rasa saling percaya, dan toleransi dengan pasangan," jelas Pamugari.

Selingkuh memang menantang. Namun, kalau mau objektif menilai, upaya untuk tetap setia dan cinta pada pasangan sah, ternyata jauh lebih menantang! 
 
Semoga uraian diatas bermanfaat.

Bagaimana cara menghentikan perselingkuhan Anda?

Kasus yang paling sering terjadi pada saat-saat awal perselingkuhan adalah curhat kepada lawan jenis, apalagi topik utama yang dibicarakan adalah mengenai pasangan masing-masing. Selain lawan jenis tersebut belum tentu paham dan dapat menyelesaikan masalah, obrolan yang terlalu personal dan berintensitas tinggi dapat menumbuhkan perasaan suka, atau bahkan cinta.

Apabila tetap ingin curhat dengan lawan jenis, pilihlah orang yang merupakan teman pasangan Anda. Namun, jika tujuan curhat adalah untuk mencari perspektif lain dari masalah rumah tangga, memberitahu pasangan perlu untuk dilakukan.

Bagaimana jika Anda sudah terlanjur berselingkuh?  Langkah awal yang harus Anda dilakukan adalah segera memunculkan self awareness. Sadari bahwa Anda telah memiliki pasangan. Sadarkan diri juga untuk tidak memanjakan perasaan tertarik kepada lawan jenis tersebut.

Anda dituntut untuk dengan tegas segera memutus kontak dengan orang tersebut. Jangan menghubunginya melalui media apa pun dan usahakan untuk tidak berduaan. Kalau orang tersebut merupakan rekan kerja Anda, hal-hal tadi tentu tidak serta merta bisa dilakukan. Meski demikian, tetap ada cara lain, yaitu dengan menjaga komunikasi hanya sebatas konteks pekerjaan. Selain itu, Anda juga dapat mengajak teman yang lain apabila terpaksa harus membicarakan masalah pribadi.

Kejujuran memang penting, namun terkadang tidak harus selalu dilakukan. Jika perselingkuhan yang Anda alami berhasil dihentikan, memberi tahu pasangan tidak selalu menjadi kewajiban. Ada beberapa orang yang terkadang sulit menerima suatu kesalahan yang terjadi pada pasangannya bahkan bisa saja menimbulkan paranoid. Tapi, bukan berarti berbohong dibenarkan, ya.

Selingkuh "hati" lebih berbahaya

Selingkuh hati ini tentu saja berbeda dengan selingkuh fisik karena kebanyakan tidak melibatkan kontak fisik. Walaupun tetap melibatkan ketertarikan secara fisik, ketertarikan terbesar biasanya muncul karena faktor emosional. Ekspresi, atau dengan kata lain pengungkapan tentang perasaan tertarik ini tidak selalu terjadi. Bahkan biasanya justru tidak diungkapkan.
 
“Ah, tenang saja, hanya selingkuh hati, bukan selingkuh fisik.” Kurang lebih seperti itulah pandangan masyarakat apabila membandingkan bahaya dari selingkuh hati dan selingkuh fisik. Dikarenakan tidak melibatkan kontak secara fisik, maka selingkuh hati dipandang tidak seberbahaya selingkuh fisik. Hasil studi terakhir juga menunjukan bahwa 77 persen pria dan 71 persen wanita menyatakan dirinya akan sangat terbuka apabila pasangannya mengaku bahwa dirinya telah berselingkuh hati.

Padahal, pada dasarnya selingkuh hati jauh lebih kompleks dan berbahaya. Fakta menunjukan bahwa selingkuh fisik belum tentu melibatkan selingkuh hati. Namun, apabila hati seseorang sudah selingkuh, “jalan tol” menuju selingkuh fisik sudah terbangun. Selain itu, mendeteksi terjadinya selingkuh hati juga lebih sulit dibandingkan selingkuh fisik. Jadi, tanpa diketahui tanda-tandanya, tiba-tiba seseorang bisa pergi dari pasangannya.

Secara sederhana, tanda-tanda selingkuh hati hampir sama dengan perasaan yang muncul saat jatuh cinta kepada seseorang. Seperti mulai menunggu untuk mendapat kabar, chatting, atau di-mention di Twitter maupun facebook. Anda juga akan merasa kehilangan saat tidak mendapatkan kabar tersebut dan terkadang selalu mencari alasan untuk berusaha bersama dengan orang tersebut. Perasaan tidak nyaman, terkait penampilan, juga sering kali muncul ketika berhadapan dengan lawan jenis tersebut.

Tanda-tanda lainnya, terutama terkait dengan status telah memiliki pasangan, adalah seringnya melakukan penyangkalan-penyangkalan sekaligus pembenaran-pembenaran bahwa apa yang dilakukannya bukan dikarenakan adanya perasaan tertarik. “Ah, ‘kan hanya ngobrol­-ngobrol saja. Semua orang juga tahu karena dilakukan di media sosial,” merupakan contoh kalimat penyangkalan dan pembenaran tersebut.

Padahal, sebenarnya dia sudah sangat dikuasai dan tergantung pada orang tersebut. Secara fisik dan mungkin juga hati, Anda seolah-olah ada untuk pasangan Anda, tapi sebenarnya pikiran sedang “jalan-jalan” menemui lawan jenis yang bukan pasangan tersebut. Tidak jarang perilaku ini juga melibatkan perasaan bersalah terhadap pasangan.
 
Maka mencoba untuk saling terbuka dengan pasangan resmi Anda tentang segala perasaan dan keinginan Anda itu jauh akan lebih baik. 

Ternyata wanita lebih banyak berselingkuh

Pandangan awam seringkali menganggap Pria sebagai sosok yang sering berselingkuh. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa wanita lebih mungkin untuk memiliki selingkuhan dibanding pria. Buktinya, 4 dari 10 wanita (40 persen) ditemukan memiliki jalinan asmara dengan orang lain. Sedangkan pria, hanya 12 persen.

Hanya karena pria tidak menindaklanjuti apa pun, bukan berarti mereka tidak pernah berpikir tentang itu. Penelitian ini menemukan tiga perempat pria menyatakan mereka mempertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan orang lain meski sedang terikat dengan seseorang.

Lebih mengkhawatirkan lagi, jumlah wanita yang memiliki niat untuk berselingkuh ternyata lebih besar, mencapai 85 persen. Bahkan perselingkuhan yang dilakukan oleh wanita tidak sebatas one night stand, namun bisa berupa perselingkuhan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Hanya 4 persen pria menyatakan mereka telah memiliki perselingkuhan jangka panjang, kurang dari sepertiga jumlah wanita yang berselingkuh, yaitu 14 persen. Biasanya one night stand terjadi pada mereka yang berusia 18-24 tahun. Sedangkan generasi yang lebih tua cenderung melakukan perselingkuhan jangka panjang.

Anthony Wright dari situs kencan Casuals, yang melakukan penelitian ini, menyatakan bahwa meski penelitian ini menunjukkan bahwa wanita lebih mungkin untuk selingkuh, dia berpikir bahwa, dibandingkan pria, wanita hanya lebih jujur tentang perasaannya.

“Angka-angka ini menunjukkan sesuatu yang berlawanan dengan pandangan umum tentang perselingkuhan. Atau bisa jadi angka-angka ini justru menunjukkan bahwa wanita memang lebih jujur tentang ketidakjujuran yang mereka lakukan,” ujar Wright.
 
Nah lho...., apakah pasangan Anda bisa di percaya?